Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Suport Kegawatan Jiwa Team @2016

Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Februari 2016

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DENGUE HAEMORRAGIC FEVER




ASUHAN KEPERAWATAN  DENGAN


DENGUE HAEMORRAGIC FEVER

A.    PENGERTIAN
Demam berdarah dengue atau haemorrogicfever adalah penyaki infeksi akut yang disebabkan oleh viru dengue (Albovirus) dan ditularkan oleh nyamuk aedes, yaitu aedes aegypti dan aedes albopictus.

B.     PENYEBAB
Virus dengue tergolong famili/grup Flavividae yang dukenal ada 4 Serotipe, yaitu Den-1, Deb-2,Den-3,dan Den-4. Den- dan Den-3 merupakan serotype yang paling banyak diketemukan sebagai penyebab.

C.     TANDA DAN GEJALA
a.       Kriteria Klinis Deferensial
-    Suhu badan yang tiba-tiba meninggi
-    Demam yang berlangsung hanya beberapa hari
-    Kurva demam menyerupai pelana kuda
-    Nyeri tekan terutama pada otot dan persendian
-    Leukopenia
b.      Kriteria WHO 1986
-    Demam akut yang cukup tinggi 2 – 7 hari, kemudian turun secara lisis. Demam disertai gejala tidak spesifik seperti anoreksia, malaise, nyeri pada punggung, tulang persendian, dan kepala.
-    Manifestasi perdarahan seperti uji tornikuet positif, petekie, purpura, ekimosis, epistaksis, perdwarahan gusi, hematemesis dan melena.
-    Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa ikterus
-    Dengan atau tanpa renjatan
-    Kenaikan hematokrit > 20%

D.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
a.                               Darah
-    Leukopenia dijumpai pada hari ke 2 atau ke 3
-    Dujimpai juga trombositopenia dan hemokonsentrasi
-    Masa pembekuan normal, masa perdarahan memanjang
-    Pada pemeriksaan kimia darah tampak hipoproteinemia, hiponatremia, SGPT/SGOT, ureum dan pH darah mungkin meningkat.
b.                              Air Seni
      Mungkin ditemukan albuminurea ringan
c.                               Sumsum Tulang
      Pada awal sakit biasanya hiposeluler, kemudian pada hari ke 5 hiperseluler dengan gangguan maturasi. Pada hari ke 10 kembali normal.
d.                              Uji Serologi
      Dengan serum ganda ( Ig M ) dan serum tunggal ( Ig G )
e.                               Isolasi Virus

E.     PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, penderita akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh tubuh, hyperemia di tenggorok, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin terjadi  pada system retikolo endothelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa.
Peningkatan premeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan ( Shock ). Sebagai akibat dari pelepasan zat anafilatoxin, histamine dan serotonin serta aktivitas system kalikrein yang mangakibatkan ekstravasasi cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler jyga berakibat pembesaran kapiler yang kamudian bisa terjadi perdarahan berupa petekie, epistaksis, haematemesis dan melena, yang dalam hal ini beresiko terjadinya shock hipovolemik.
Homokonsentrasi ( peningkatan kematokrit > 20 % ) menunjukkan adanya kebocoran plasma, sehingga nilai hematokrit sangat penting untuk patokan pemberian cairan intravena.
Setelah pemberian cairan intravena, peningkatan jumlah eritrosit menunjukkan kabocoran plasta telah teratasi, sehingga pamberian cairan intravena harus dikurang untuk mencegah edema paru dan gagal jantung. Sebaliknmya bila tidak mendapatkan cairan yang cukup penderita akan mengalami kekurangan cairanyang dapat mengalami hipovolemik / renjatan yang bisa timbul anoksia jaringan, metabolic asidosis dan kematian apabila tidak teratasi segera.

F.      PENGKAJIAN FOKKUS
a.       Riwayat Kesehatan meliputi
-    Tempat tinggal
-    Kondisi lingkungan
-    Adakah riwayat bepergian dari kota ( wilayah endemic )
-    Riwayat pekerjaan
-    Faktor pencetus daan lamanya keluhan
b.      Tanda – tanda vital
c.       Pola nutrisi
d.      Pola aktivitas
e.       Nyeri / Kenyamanan


G.    PATHWAYS KEPERAWATAN





H.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Hipertermi berhubungan dengan pelepasan asam arakidonat pada hipotalamus sekunder terhadap pelepasan zat pirogen.
2.      Nyeri berhubungan dengan peningkatan stimulasi nosiseptor sekunder terhadap peradangan ( proses inflamasi )
3.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, anoreksia sekunder terhadap penekanan pada daerah gaster.
4.      Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan plasma darah sekunder terhadap reaksi immunologi
5.      Resiko shock hipovolemi berhubungan dengan perdarahan sekunder terhadap pembesaran kapiler.

I.       FOKUS INTERVENSI DAN RASIONAL
1.      Hipertermi berhubungan dengan pelepasan asam arakidonat pada hipotalamus sekunder terhadap pelepasan zat pirogen.
Intervensi :
a.   Kaji saat timbulnya nyeri
b.      Kaji tanda- tanda vital tiap 8 jam
c.       Beri penjelasan tentang penyebab demam
d.      Beri penjelasan pada klien / keluarga tentang hal –hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi demam
e.       Pertahankan tirah baring
f.       Anjurkan klien untuk banyak minum 2,5 liter / 24 jam
g.      Berikan kompres hangat
h.      Anjurkan untuk memakai pakaian yang dapat menyerap keringat
i.        Kolaborasi untuk mpemberian antipiretik
Rasional :
a.       Untuk mengidentifikasi pola demam
b.      Tanda vital dipakai sebagai pedoman untuk mengetahui keadaan umum klien
c.       Penjelasan yang diberikan dapat membantu menurunkan kecemasan
d.      Keterlibatan keluarga dapat membantu dalam proses penyembuhan.
e.       Mengurangi peningkatan metabolisme tubuh yang dapat mempengaruhi peningkatan suhu tubuh.
f.       Dalam kondisi demam terjadi peningkatan evaporasi yang memicu timbulnya dehidrasi sehingga memerlukan asupan cairan yang adekuat
g.      Menghambat pusat simpisis di hipotalamus sehingga terjadi vasodilatasi kulit dengan merangsang kelenjar keringat untuk mengurangi panas tubuh melalui penguapan.
h.      Kondisi kulit yang lembab memicu timbulnya pertumbuhan jamur serta mencegah timbulnya ruam kulit dan membantu proses penguapan.
i.        Untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus
2.      Nyeri berhubungan dengan peningkatan stimulasi nosiseptor sekunder terhadap peradangan ( proses inflamasi )
Intervensi :
a.       Mengkaji tingkat nyeri dengan rentang nyeri skala 0 - 10
b.      Beri posisi dan suasana yang nyaman
c.       Kaji bersama klien penyebab nyeri yang dialami
d.      Ajarkan pada klien metoda distraksi selama nyeri akut
e.       Ajarkan tindakan penurun nyeri invasive
f.       Kolaborasi untuk pemberian analgetik
Rasional :
a.       Untuk mengetahui tingkat nyeri yang dialami klirn sesuai dengan respon individu terhadap nyeri
b.      Membantu menurunkan  ketegangan yang dapat meningkatkan nyeri
c.       Membantu klien dalam memilih cara yang nyaman untuk mengurangi nyeri
d.      Dapat membantu mengalihkan perhatian selama nyeri
e.       Mengurangi nyeri tanpa beban / rasa yang menyakitkan
f.       Dapat menurunkan nyeri secara optimal
3.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual, anoreksia sekunder terhadap penekanan pada daerah gaster.
Intervensi :
a.       Kaji kebiasaan diit klien
b.      Kaji adanya keluhan mual
c.       Beri makanan yang mudah dicerna
d.      Hidangkan makanan dalam porsi kecil tapi sering
e.       Jelaskan manfaat nutrisi untuk proses penyembuhan
f.       Berikan reinforcement saat klien mau dan berusaha menghabiskan makanan yang dihidangkan
g.      Pertahankan hygiene mulut baik sebelum dan sesudah makan
h.      Timbang BB setiap 2 hari sekali
Rasional :
a.       Mengetahui kecukupan asupan nutrisi
b.      Membantu menetapkan cara mengatasi mual
c.       Mengurangi kelelahan saat makan
d.      Adanya hepatomegali dapat menekan saluran gastrointestinal dan menurunkan kapasitasnya
e.       Meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk makan meningkat
f.       Motivasi akan meningkatkan kemauan
g.      Akumulasi partikel dimulut dapat menambah baud an rasa tak sedap yang dapat menurunkan nafsu makan.
h.      Dapat sebagai patokan untuk mengetahui kemajuan atau proses penyembuhan
4.      Defisit volume cairan berhubungan dengan kehilangan plasma darah sekunder terhadap reaksi immunologi
Intervensi :
a.       Kaji KU klien / tanda vital
b.      Observasi adanya tanda-tanda shock
c.       Anjurkan klien untuk banyak minum
d.      Kaji tanda dan gejala dehidrasi
e.       Observasi input dan output
f.       Kolaborasi pemberian cairan intravena
Rasional :
a.       Menetapkan data dasar klien untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan normal.
b.      Agar dapat segera dilakukan tindakan untuk menangani
c.       Asupan cairan sangat diperlukan untuk menambah volume cairan tubuh
d.      Untuk mengetahui penyebab deficit volume cairan tubuh
e.       Untuk mengetahui keseimbangan cairan
f.       Pemberian cairan intravena sangat penting karena langsung masuk ke pembuluh darah ( vaskuler ).
5.      Resiko shock hipovolemi berhubungan dengan perdarahan sekunder terhadap pembesaran kapiler.
Intervensi :
a.       Monitor KU klien
b.      Observasi tanda-tanda vital tiap 2 – 3 jam
c.       Monitor tanda-tanda perdarahan
d.      Jelaskan pada klien / keluarga tentang tanda- tanda perdarahan yang mungkin terjadi
e.       Cek Hb, HT, AT setiap 6 jam
f.       Kolaborasi untuk tindakan atau pemberian tranfusi
g.      Kolaborasi pemberian hemostatikum
            Rasional :
a.       Untuk memantau kondisi klien selama mas perawatan
b.      Observasi tanda-tanda vital secara terus menerus, untuk antisipasi adanya shock
c.       Perdarahan yang cepat diketahui dapat segera ditangani atau dicegah
d.      Dengan memberi penjelasan pada klien / keluarga diharapkan tanda-tanda shock atau perdarahan dapat segera diketahui
e.       Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan sebagai dasar melakukan tindakan lebih lanjut
f.       Untuk mengganti darah ( volume darah  ) serta komponen darah yang hilang
g.      Untuk membantu menghentikan perdarahan

J.       PENATALAKSANAAN
1.      Tirah baring
2.      makanan lunak
Minum 1,5 – 2 liter / 24 jam
3.      Pemberian medikamentosa yang bersaifat simtomatis
4.      Antibiotik diberikan bila terdapat resiko infeksi sekunder
5.      Pemberian cairan intravena


DAFTAR   PUSTAKA


Carpenito, L.J. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan dan Dokumentasi. EGC: Jakarta
Syaifullah,N. 1998. Buku Ajar Ilmu Penyakit dalam, FKUI : Jakarta

Kamis, 04 Februari 2016

ASUHAN KEPERAWATAN BAYI DENGAN HIRSCHPRUNG



ASUHAN KEPERAWATAN BAYI DENGAN 
HIRSCHPRUNG 

Kegawatan Jiwa TIM


I.       Pengertian
Penyakit Hirschprung adalah kelainan bawaan penyebab gangguan pasase usus (Ariff Mansjoer, dkk. 2000). Dikenalkan pertama kali oleh Hirschprung tahun 1886. Zuelser dan Wilson , 1948 mengemukakan bahwa pada dinding usus yang menyempit tidak ditemukan ganglion parasimpatis.

II.    Etiologi
Penyakit ini disebabkan aganglionosis Meissner dan Aurbach dalam lapisan dinding usus, mulai dari spingter ani internus ke arah proksimal, 70 % terbatas di daerah rektosigmoid, 10 % sampai seluruh kolon dan sekitarnya 5 % dapat mengenai seluruh usus sampai pilorus.

III. Komplikasi.
Enterokolitis nekrotikans, pneumatosis usus, abses perikolon, perforasi dan septikemia.

IV.  Penatalaksanaan.
1.      Konservatif. Pada neonatus dilakukan pemasangan sonde lambung serta pipa rektal untuk mengeluarkan mekonium dan udara.
2.      Tindakan bedah sementara. Kolostomi pada neonatus, terlambat diagnosis, eneterokolitis berat dan keadaan umum buruk.
3.      Tindakan bedah defenitif. Mereseksi bagian usus yang aganglionosis dan membuat anastomosis.

V.     Asuhan Keperawatan.
A.     Pengkajian.
  1. Identitas.
Penyakit ini sebagian besar ditemukan pada bayi cukup bulan dan merupakan kelainan tunggal. Jarang pada bayi prematur atau bersamaan dengan kelainan bawaan lain. Pada segmen aganglionosis dari anus sampai sigmoid lebih sering ditemukan pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan.  Sedangkan kelainan yang melebihi sigmoid bahkan seluruh kolon atau usus halus ditemukan sama banyak pada anak laki-laki dan perempuan (Ngastiyah, 1997).
  1. Riwayat Keperawatan.
a.       Keluhan utama.
Obstipasi merupakan tanda utama dan pada bayi baru lahir. Trias yang sering ditemukan adalah mekonium yang lambat keluar (lebih dari 24 jam setelah lahir), perut kembung dan muntah berwarna hijau. Gejala lain adalah muntah dan diare.
b.      Riwayat penyakit sekarang.
Merupakan kelainan bawaan yaitu obstruksi usus fungsional. Obstruksi total saat lahir dengan muntah, distensi abdomen dan ketiadaan evakuasi mekonium. Bayi sering mengalami konstipasi, muntah dan dehidrasi. Gejala ringan berupa konstipasi selama beberapa minggu atau bulan yang diikuti dengan obstruksi usus akut. Namun ada juga yang konstipasi ringan, enterokolitis dengan diare, distensi abdomen, dan demam. Diare berbau busuk dapat terjadi.
c.       Riwayat penyakit dahulu.
Tidak ada penyakit terdahulu yang mempengaruhi terjadinya penyakit Hirschsprung.
d.      Riwayat kesehatan keluarga.
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit ini diturunkan kepada anaknya.
e.       Riwayat kesehatan lingkungan.
Tidak ada hubungan dengan kesehatan lingkungan.
f.        Imunisasi.
Tidak ada imunisasi untuk bayi atau anak dengan penyakit Hirschsprung.
g.       Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
h.       Nutrisi.
  1. Pemeriksaan fisik.
a.       Sistem kardiovaskuler.
Tidak ada kelainan.
b.      Sistem pernapasan.
Sesak napas, distres pernapasan.
c.       Sistem pencernaan.
Umumnya obstipasi. Perut kembung/perut tegang, muntah berwarna hijau. Pada anak yang lebih besar terdapat diare kronik. Pada colok anus jari akan merasakan jepitan dan pada waktu ditarik akan diikuti dengan keluarnya udara dan mekonium atau tinja yang menyemprot.
d.      Sistem genitourinarius.
e.       Sistem saraf.
Tidak ada kelainan.
f.        Sistem lokomotor/muskuloskeletal.
Gangguan rasa nyaman.
g.       Sistem endokrin.
Tidak ada kelainan.
h.       Sistem integumen.
Akral hangat.
i.         Sistem pendengaran.
Tidak ada kelainan.

  1. Pemeriksaan diagnostik dan hasil.
a.       Foto polos abdomen tegak akan terlihat usus-usus melebar atau terdapat gambaran obstruksi usus rendah.
b.      Pemeriksaan dengan barium enema ditemukan daerah transisi, gambaran kontraksi usus yang tidak teratur di bagian menyempit, enterokolitis pada segmen yang melebar dan terdapat retensi barium setelah 24-48 jam.
c.       Biopsi isap, mencari sel ganglion pada daerah sub mukosa.
d.      Biopsi otot rektum, yaitu pengambilan lapisan otot rektum.
e.       Pemeriksaan aktivitas enzim asetilkolin esterase dimana terdapat peningkatan aktivitas enzim asetilkolin eseterase.


B.     Masalah pemenuhan kebutuhan dasar (pohon masalah).
 






















C.     Diagnosa Keperawatan
1.      Gangguan eliminasi BAB : obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya dorong.
2.      Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang inadekuat.
3.      Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan diare.
4.      Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya distensi abdomen.
5.      Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan keadaan status kesehatan anak.


D.     Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan
Perencanaan Keperawatan
Tujuan dan criteria hasil
Intervensi
Rasional
Gangguan eliminasi BAB : obstipasi berhubungan dengan spastis usus dan tidak adanya daya dorong.

Pasien tidak mengalami ganggguan eliminasi dengan kriteria defekasi normal, tidak distensi abdomen.
1.       Monitor cairan yang keluar dari kolostomi
2.       Pantau jumlah cairan kolostomi

3.       Pantau pengaruh diet terhadap pola defekasi

Mengetahui warna dan konsistensi feses dan menentukan rencana selanjutnya
Jumlah cairan yang keluar dapat dipertimbangkan untuk penggantian cairan
Untuk mengetahui diet yang mempengaruhi pola defekasi terganggu.
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang inadekuat.

Kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria dapat mentoleransi diet sesuai kebutuhan secara parenteal atau per oral.
1.       Berikan nutrisi parenteral sesuai kebutuhan.
2.       Pantau pemasukan makanan selama perawatan
3.       Pantau atau timbang berat badan.
Memenuhi kebutuhan nutrisi dan cairan

Mengetahui keseimbangan nutrisi sesuai kebutuhan 1300-3400 kalori
Untuk mengetahui perubahan berat badan
Kekurangan cairan tubuh berhubungan muntah dan diare.

Kebutuhan cairan tubuh terpenuhi dengan kriteria tidak mengalami dehidrasi, turgor kulit normal.
1.     Monitor tanda-tanda dehidrasi.

2.     Monitor cairan yang masuk dan keluar.
3.     Berikan caiaran sesuai kebutuhan dan yang diprograrmkan

Mengetahui kondisi dan menentukan langkah selanjutnya
Untuk mengetahui keseimbangan cairan tubuh
Mencegah terjadinya dehidrasi

Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan adanya distensi abdomen.

Kebutuhan rasa nyaman terpenuhi dengan kriteria tenang, tidak menangis, tidak mengalami gangguan pola tidur
1.          Kaji terhadap tanda nyeri

2.          Berikan tindakan kenyamanan : menggendong, suara halus, ketenangan
3.          Berikan obat analgesik sesuai program
Mengetahui tingkat nyeri dan menentukan langkah selanjutnya
Upaya dengan distraksi dapat mengurangi rasa nyeri
Mengurangi persepsi terhadap nyeri yamg kerjanya pada sistem saraf pusat

Daftar Pustaka

Kuzemko, Jan, 1995, Pemeriksaan Klinis Anak, alih bahasa Petrus Andrianto, cetakan III, EGC, Jakarta.

Lyke, Merchant Evelyn, 1992, Assesing for Nursing Diagnosis ; A Human Needs Approach,J.B. Lippincott Company, London.

Mansjoer, dkk. 2000, Kapita Selekta Kedokteran, ed.3, Media Aesculapius, Jakarta.

Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.